Tampilkan postingan dengan label Filippo Inzaghi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filippo Inzaghi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2015

Milan Kalah Lagi, Inzaghi Kehabisan Kata




Kekalahan AC Milan dari Napoli membuat Filippo Inzaghi kehabisan kata-kata melihat performa timnya. Ia menyebut kartu merah di awal laga sangat mempengaruhi permainan I Rossoneri.

Bertandang ke San Paolo, Senin (4/5/2015) dini hari WIB, Milan harus bermain dengan sepuluh orang sejak menit pertama setelah Mattia De Sciglio dihadiahi kartu merah langsung usai melanggar Marek Hamsik di kotak penalti.

Beruntung eksekusi penalti Gonzalo Higuain berhasil digagalkan Diego Lopez. Kalah jumlah pemain, I Rossoneri sebenarnya mampu meredam serangan Napoli hingga pertengahan babak kedua.

Sayangnya, konsentrasi mereka pecah dan harus kemasukan tiga gol dalam rentang enam menit masing-masing dicetak Marek Hamsik (70'), Gonzalo Higuain (74') serta Manolo Gabbiadini (76').

Kekalahan tersebut menjadi yang ketiga secara beruntun bagi Il Diavolo Rosso. Sebelumnya mereka kalah dari Udinese (2-1) serta Genoa (1-3).

"Saya minta maaf atas nama tim, karena kami telah memberikan yang kami bisa selama 70 menit dan kami benar-benar terpengaruh dengan kartu merah langsung di awal laga," kata pelatih 41 tahun itu kepada Skysport Italia.

"Saya tidak bisa berkata apapun tentang sikap tim saya dalam beberapa pertandingan terakhir. Kemasukan gol pertama merupakan pukulan telak bagi kami dan setelahnya kami tertunduk lesu," ia menutup.

Dengan hasil minor ini, posisi Milan melorot ke urutan ke-11 dengan mengemas nilai 43 dari 34 pertandingan. Peluang mereka untuk lolos ke kancah Eropa musim depan semakin tipis karena berselisih sembilan angka dari Fiorentina di urutan kelima.[yob]

Sumber: Football-Italia - See more at: http://bola.inilah.com/read/detail/2201173/milan-kalah-lagi-inzaghi-kehabisan-kata#sthash.GNwmfzIH.dpuf

Kamis, 16 April 2015

10 Pemain Terbaik AC Milan Sepanjang Masa



Ketika saya masih mengenakan baju putih dan celana pendek berwarna merah, kurang lebih sembilan tahun lalu, hanya ada beberapa klub yang saya tahu. Selain klub kesayangan saya, AC Milan merupakan tim lain yang saya kenal. Alasannya adalah karena tim saya dihentikan langkahnya di UEFA Champions League oleh tim merah-hitam ini. Semenjak itu, saya mendukung semua lawan Milan. Sampai-sampai sayapun akhirnya mendukung Liverpool pada partai final. Maklum, namanya juga anak kecil.
However, semenjak itu pula saya mengetahui bahwa AC Milan diisi oleh berbagai pemain hebat. Mulai dari kuartet bek Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Jaap Stam, dan Cafu, lalu berlanjut ke Gennaro Gatusso, Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, dan Kaka sebagai penghuni posisi berlian. Di lini depan mereka memiliki Hernan Crespo dan Andriy Shevchenko plus Jon Dahl Tommason yang ketika itu dianggap sebagai bomber pemain pengganti.
Memang pemain I Rossoneri bukan hanya mereka saja. Semenjak berdiri di tahun 1899, entah sudah berapa pemain yang pernah berseragam merah-hitam khas mereka. Ini berarti tentu ada begitu banyak pemain hebat lain dari eranya masing-masing. Namun tentu saja seperti biasa, saya hanya boleh memilih 10 nama.
1. Gunnar Nordahl
"Well he can double that number, and then add another 26, then, and just then, he has passed Il Canoniere,” adalah sebuah kalimat yang dilontarkan seorang Milanisti ketika Andriy Shevchenko mencetak gol ke-100 nya di Serie A. Lalu siapa pemain yang mendapatkan julukan Il Canoniere tersebut?
Ya, pemai tersebut adalah Gunnar Nordhal, pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi Il Diavolo dengan 226 gol dari 257 pertandingan. Kalau anda pernah membaca artikel saya yang berjudul “10 Pemain Terbaik Serie A Sepanjang Masa”, maka anda akan temukan namanya tertera disana. Bagaimana tidak? Ia adalah satu-satunya pemain asing yang mampu mencetak lebih dari 200 gol di divisi teratas sepakbola Italia tersebut.
Saya memang tidak akan mengada-ada dengan mengatakan pergerakannya cepat, sentuhannya lembut, gerakannya cepat, dan bla bla bla. Saya bahkan sulit untuk mendeskripsikan kemampuannya jika menyaksikan dari youtube. Namun yang jelas akan cukup aneh jika peraih lima capocannoniere dalam tempo enam musim ini tidak masuk ke dalam daftar ini
2. Gianni Rivera
Bersama dengan Giovanni Trapattoni, Gianni Rivera adalah tonggak awal kejayaan AC Milan di Eropa. Atau mungkin lebih tepatnya, ia adalah awal dimana I Rossoneri dikenal sebagai salah satu kekuatan besar di benua biru. Terlebih lagi ia menghabiskan 19 tahun berseragam merah-hitam. Sebuah masa bakti yang luar biasa ketika masa itu.
Pengabdiannya tersebut tentu berbuah manis. Ia adalah penghuni peringkat keempat dalam daftar pemain dengan caps terbanyak AC Milan. Bisa mendapatkan kesempatan bermain sebanyak itu pasti berarti ia memiliki skill yang tidak biasa. Bahkan ketika masa jayanya, ia dijuluki sebagai The Golden Boy.
Bersama AC Milan, ia menyumbang tiga gelar Serie A, lima gelar Coppa Italia, dan dua gelar UEFA Champions League. Pemain yang mendapatkan Ballon d’Or pada tahun 1969 ini juga merupakan bagian dari tim nasional Italia ketika pertama kali menjuarai EURO.
3. Franco Baresi
Melihat Franco Baresi bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno dua tahun silam bersama AC Milan Glorie, rasanya ada yang “aneh” dari permainannya. Meski ketika itu ia sudah berumur 51 tahun, namun tetap saja para pemain depan kita seperti Ricky Yakobi dan Rochy Putiray terlihat sangat kesuliatn untuk melewati penjagaannya. Saya pun berpikir apa jadinya jika ketika itu Baresi masih dalam masa jayanya.
Enam gelar Serie A, empat gelar Coppa Italia, tiga gelar UEFA Champions League, dan dua gelar Serie B membuktikan betapa besar perannya dalam membangun kejayaan AC Milan baik dalam keadaan susah ataupun senang. Kesetiannya tersebut terbayar dengan 719 kali kesempatan bermain. Dalam jangka 20 tahun bermain bagi I Rossoneri, ia menghabiskan 15 tahun mengenakan ban kapten.
Kemampuan, karisma, jiwa kepemimpinan, dan pengaruhnya di AC Milan mungkin dapat tergambarkan apabila anda mengetahui bahwa tim sekota Internazionale Milan ini “mempensiunkan” baju bernomor punggung enam, yang dimana adalah nomor punggung Baresi.
4. Marco Van Basten
Saya belum lahir ketika AC Milan dibawah arahan Arrigo Sacchi menguasai Eropa dengan pasukan trio Belanda. Tetapi dengan banyak membaca, saya tahun bahwa Marco Van Basten adalah salah satu kunci kekuatan Milan ketika itu. Bukan hanya itu saja, banyak penjelasan-penjelasan yang menegaskan bahwa Van Basten adalah salah satu pemain terbaik yang pernah ada di dunia.
Berhubung saya tidak pernah menyaksikannya bermain, maka saya lebih sering mendengar tentang karirnya yang singkat akibat cedera. Namun demikian, saya juga tahu bahwa pemain yang mencetak 124 gol bagi AC Milan ini telah memberikan tiga gelar Serie A dan dua gelar UEFA Champions League.
Yang lebih menghebatkankan lagi, dalam tujuh tahun karirnya berseragam AC Milan, ia meraih begitu banyak gelar pribadi. Mulai dari dua kali Capocannoniere, satu kali FIFA World Player of the Year, hingga tiga kali Ballon d’Or.
5. Ruud Gullit
Sebagai bagian dari trio Belanda yang dibangun oleh Arrigo Sacchi dengan kekuatang uang Silvio Berlusconi, rasanya sangat sulit bagi saya untuk tidak memasukkan Ruud Gullit kedalam daftar ini. Datang bersama dengan Marco Van Basten di tahun 1987, ia langsung menjadi pemain inti yang tak dapat tergantikan.
Jauh sebelum rambut berantakan Carles Puyol dijadikan bahan bercandaan, rambut Gullit sudah terlebih dahulu menjadi “tren” anak muda. Sejalan dengan itu, kemampuannya di lapangan berbicara jauh lebih banyak. Ia adalah pemain serba bisa dan memiliki insting mencetak gol yang cukup tinggi. Ini terlihat dari total 56 gol yang ia cetak selama 171 kali membela AC Milan.
Sama hal nya dengan Van Basten, ia juga menyumbangkan tiga gelar Serie A dan dua gelar UEFA Champions League. Jangan lupa juga kalau sebelum rekan senegaranya tersebut meraih Ballon d’Or dua kali berturut-turut, Gullit lah yang meraih penghargaan tersebut.
6. Andriy Shevchenko
Tidak sulit untuk memutuskan apakah Andriy Shevchenko akan masuk ke dalam daftar ini atau tidak. Bahkan sebenarnya, saya sama sekali tidak mempertimbangkan hal tersebut. Bagaimana tidak? Ia adalah pencetak gol terbanyak kedua dengan 175 gol sepanjang sejarah AC Milan berdiri.
Datang pada tahun 1999 dengan mahar sebesar 25 juta EURO, ia langsung menjadi idola public San Siro dengan gol demi gol yang ia ciptakan. Dari semua gol tersebut, jelas gol nya ke gawang Juventus pada final UEFA Champions League di tahun 2003 adalah yang paling istimewa.
Satu-satunya kesalahan dalam karirnya adalah menerima pinangan Roman Abramovich untuk pindah ke Chelsea. Seandainya ia tidak pindah, barangkali ia akan memenangkan lebih banyak gelar dan sangat mungkin memecahkan rekor gol Gunnar Nordahl. Meski demikian, tetap saja namanya akan selalu identik sebagai pencetak gol tajam dari AC Milan.
7. Kaka
Sangat sulit bagi saya yang tim nya menjadi korban bully-an Ricardo Kaka di babak semifinal UEFA Champions League 2007 untuk tidak memasukkan namanya ke dalam daftar ini. Apalagi, saya juga tahu bahwa keputusannnya hijrah ke Real Madrid lebih didasari sebagai kecintaannya bagi AC Milan. Ia pergi agar I Rossoneri terhindar dari kebangkrutan.
Pemain yang didatangkan dari Sao Paolo dengan harga “hanya” 8.5 juta EURO ini memang dari awal sudah memperlihatkan prospek yang cerah. Perlahan tapi pasti, ia menggeser posisi Rui Costa sebagai attacking midfielder AC Milan.
Berbagai penghargaan pribadi pun pernah didapatkan oleh pemain yang dapat dikatakan “sendirian” membawa AC Milan menjuarai UCL tahun 2007 ini. Tiga kali Serie A Foreign Footballer of the Year, tiga kali Serie A Footballer of the Year, dan satu Ballon d’Or menjadi bukti sahih betapa hebatnya Kaka ketika masih membela panji-panji I Diavolo.
8. Alessandro Costacurta
Bagi mereka yang bukan penggemar AC Milan atau Serie A, nama Alessandro Costacurta memang tidak akan pernah sementereng Paolo Maldini, Franco Baresi, atau Mauro Tassotti. Namun demikian, tidak berarti pemain ini adalah pemain yang biasa-biasanya saja. Karena seandainya dirinya adalah pemain biasa, maka hampir tidak mungkin jumlah caps nya bersama I Rossoneri hanya kalah dari Franco Baresi dan Paolo Maldini.
Hanya mencetak tiga gol sepanjang karirnya bersama AC Milan tidak membuat dirinya lantas dibenci oleh public San Siro. Justru dirinya dicintai oleh karena permainan lugasnya menjaga pertahanan Il Diavolo. Menjadi bagian dalam sejarah emas Milan, ia turut menyumbang tujuh Serie A dan lima UEFA Champions League.
9. Zvonimir Boban
Cukup sulit bagi saya untuk memilih antar Zvonimir Boban, Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, atau George Weah. Namun pada akhirnya, saya lebih memilih Boban untuk mengisi daftar ini. Mengapa demikian? Karena baik Pirlo, Nesta, ataupun Weah tidak memiliki kumis dan jenggot sekeren Boban. Titik.
Well anyway, Boban bisa dibilang merupakan salah satu attacking midfielder terbaik dunia ketika masa jayanya. Ia mengontrol lini penyerangan AC Milan dengan begitu luar biasa. Kecepatan maupun visinya dalam memberikan operan patut mendapatkan apresiasi. Bersama I Rossoneri, ia berhasil menjuarai empat kali Serie A dan satu UEFA Champions League.
Hanya ada dua hal yang mengecewakan dalam karir Boban di Milan. Pertama, ia harus pergi setelah tergeser oleh Rui Costa sehingga akhirnya sedikit terlupakan oleh Milanisti sampai sekarang. Kedua, ia belum sempat menolong Milanisti yang sedang terlibat perkelahian dengan polisi di Milan.
10. Paolo Maldini
Saya masih belum mau kehilangan posisi sebagai penulis di Bolatotal dengan tidak memasukkan nama Paolo Maldini ke daftar ini. Lagipula mungkin saya sudah gila jika tidak memasukkan sang kapten yang saat ini memegang rekor jumlah penampilan terbanyak bagi AC Milan. Ya semoga saja nanti anaknya bisa meneruskan nomor punggung tiga yang masih memasuki masa “istirahat”.

[sumber ; bolatotal | kontributor : Evans Edgar Simon, Jumat, 12/07/2013 10:14]

Senin, 15 Desember 2014

Jeremy Menez Masuk dalam Daftar Top Score Sementara

Jeremy Menez yang awalnya diplot sebagai false 9 sekarang malah menjadi aktor utama (Protagonista) Milan dalam mengarungi musim kompetisi Serie-A musim 2014/2015


dari 15 penampilan Menez selama ini sudah mencetak 8 gol, pemain yang pindah dari PSG awal musim ini punya ambisi yang cukup besar untuk membawa Milan duduk di posisi 3 besar klasmen akhir musim ini.

penampilan impresif Menez ini tidak lepas dari mandulnya striker utama milan Fernando Torres dengan Giampaolo Pazzini yang jarang diturunkan oleh sang pelatih Pippo Inzaghi, berkat kepercayaan yang diberikan pelatih Menez menjawabnya dengan gelontoran 8 gol yang sudah dicetaknya di Serie-A.

Serie-A sebenarnya bukan hal baru bagi Menez karena sebelum memperkuat PSG, Menez terlebih dahulu memperkuat AS Roma sebelum akhirnya berlabuh di Milan,

Jeremy Menez berterima kasih kepada Filippo Inzaghi yang menaruh kepercayaan kepadanya setelah AC Milan mengalahkan Napoli. 
Pemain asal Prancis mendapat kritik lantaran dianggap egois setelah menyia-nyiakan peluang emas saat kalah dari Genoa pekan lalu. Namun, dia menjadi protagonis dengan membuka skor untuk Milan sebelum digandakan Giacomo Bonaventura untuk membawa Milan memanen kemenangan 2-0 di San Siro. 
“Saya merasa baik, memiliki tim hebat yang membantu saya, jadi ini memungkinkan saya bermain dengan kepala jernih,” kata Menez kepada Sky Sport Italia setelah mencetak gol kedelapan musim ini. 
“Inzaghi selalu percaya kepada saya dan saya harus membayarnya di lapangan. Saya tidak bisa membiarkan dia down. 
“Menurut pandangan saya, pertandingan ini dapat menunjukkan arah yang benar. Saya pikir kami melakukannya dengan baik melawan Genoa dan hanya kebobolan melalui corner, jadi kami berada di jalur yang benar.” 
Presiden Silvio Berlusconi menegaskan Milan harus mencapai tiga besar musim ini, sementara Inzaghi justru ingin menjalaninya satu per satu pertandingan. 
“Katakanlah keduanya benar. Ketika Anda keluar, itu untuk menang. Kami memiliki tim bagus dan bisa mencapai sesuatu yang besar.” 
Hasil di San Siro menempatkan Milan hanya selisih dua poin dari pertingkat tiga. 

Berikut adalah Gol Menez ke gawang Napoli di menit ke 6 babak pertama


Laporan Pertandingan Milan 2-0 Napoli



Napoli dikejutkan dua gol cepat yang tercipta di masing-masing babak...


BABAK PERTAMA
Baru enam menit pertandingan berjalan, AC Milan langsung membuka keunggulan atas Napoli di San Siro. Serangan digagas dari sisi kanan melalui Montlivo dan bola jatuh ke kaki Bonaventura. Pemain Milan ini lalu memberikan bola kepada Menez yang sukses mengecoh Koulibaly sebelum melepaskan tembakan mendatar ke tiang jauh untuk mencatatkan nama di papan skor.
Dikagetkan gol cepat, Napoli berupaya menekan sektor pertahanan Rossoneri namun peluang emas baru bisa mereka ciptakan pada menit 24 namun kans yang didapat Callejon bisa dimentahkan kiper Diego Lopez.
Di tengah-tengah upaya Napoli menyamakan kedudukan, Milan nyaris menggandakan keunggulan tpatnya di menit 34 melalui Poli. Bintang Jepang Keisuke Honda beraksi dengan melewati dua bek Partenopei dan menyodorkan bola yang disambar tembakan melengkung sayang bola melesat di sisi kiri gawang Rafael.
Tujuh menit sebelum masa rehat selesai, terjadi kemelut di depan gawang Milan dan bola liar menghampiri mantan penyerang Real Madrid tetapi lagi-lagi bola bisa dimentahkan Lopez.
Dua kartu kuning masing-masing satu dikeluarkan untuk Daniele Bonera dan Faouzi Ghoulam sebelum wasit menutup babak pertama.

BABAK KEDUA
Episode di awal babak pertama berulang di paruh kedua, di saat Napoli belum panas tuan rumah langsung tancap gas dan menggandakan keunggulan melalui Giacomo Bonaventura yang menanduk umpan matang Pablo Armero di sisi kiri.
Unggul dua gol tidak mengendurkan semangat Milan yang tampil di hadapan puluhan ribu Milanisti di San Siro. Di menit 62 Menez bergerak lincah melewati dua bek Napoli dan melepaskan tembakan terarah dari dalam kontak penalti, beruntung bagi Napoli karena bola berbelok arah setelah mengenai Klulibaly.
Melewati menit 75 Milan mulai fokus ke lini pertahanan dan akibatnya Napoli kembali menekan melalui Gonzalo Higuain tetapi satu tembakannya di menit 78 melenceng tipis di sisi gawang Lopez.
Di masa injury time, Napoli nyaris memperkecil kedudukan melalui Callejon tetapi lagi-lagi sang penyerang gagal menaklukkan Lopez karena bola sundulannya melambung tinggi ke atas mistar gawang dan pertandingan berakhir dengan kemenangan nyaman tuan rumah dua gol tanpa balas.


Susunan Pemain

Sejarah Hari Ini (16 Desember): 115 Tahun AC Milan Berdiri


Tepat hari ini, 115 tahun silam, salah satu klub tersukses di dunia yang telah meraih 18 trofi resmi UEFA dan FIFA berdiri.

Minggu, 02 November 2014

Baru mencetak satu gol dari tujuh partai, Torres terus mendapat sorotan. Namun, Galliani mengaku puas dengan performa sang bomber.


CEO AC Milan Adriano Galliani mengaku tidak terlalu mempermasalahkan catatan gol Fernando Torresyang masih seret sejak pindah ke Italia pada musim panas kemarin.
Penyerang pinjaman dari Chelsea itu sejauh ini baru sanggup mencetak satu gol dari tujuh partai Serie A Italia. Namun, Galliani menyebut Torres memang belum pulih betul dari cedera engkel sehingga belum bisa tampil 100 persen.
“Saya rasa, masalah engkel yang dialami Torres telah berdampak pada performanya. Maka, kondisi ini [seret gol] normal karena memang butuh waktu untuk kembali ke kondisi semula,” ujar Galliani kepada MilanNews.
“Saya menyukai Torres karena dia bisa membuat pergerakan yang tepat. Saat melawan Verona, hal tersebut bisa dilihat dalam proses terjadinya gol Keisuke Honda yang menuntaskan assist Stephan El Shaarawy. Striker egois akan berusaha meminta bola, tetapi dia [Torres] sukses menarik bek-bek lawan sehingga membuka ruang terhadap rekan setimnya,” jelasnya.
Galliani juga menilai bagus performa yang ditunjukkan Rossoneri di awal musim 2014/15. “Saya beri nilai tujuh [dari sepuluh] untuk para pemain dan nilai delapan untuk pelatih [Filippo Inzaghi]. Kami berada enam poin di belakang Roma. Jarak memang ada, tetapi tidak terlalu jauh,” tandasnya.
Milan, yang mengalami empat hasil seri dalam enam laga terakhir, akan berupaya kembali ke jalur kemenangan saat menjamu Palermo pada Minggu (2/11) ini.

Kamis, 09 Oktober 2014

Pippo Inzaghi Harus Belajar Cara Bertahan


AC Milan mampu membuat kejutan dengan dua kemenangan beruntun di awal musim 2014/15. Namun, catatan kemenangan Milan diputus oleh Juventus pada pekan ketiga.
Rossoneri boleh bangga duduk di peringkat lima Serie A. Mereka juga menjadi tim paling produktif dengan torehan 13 gol bersama Juventus. Namun, Pelatih Filippo Inzaghi masih mempunyai pekerjaan rumah untuk membenahi lini belakang Milan.
Dari enam laga Serie A, Milan kebobolan sembilan gol! Jauh lebih besar dibanding klub penghuni 10 besar seperti Juventus (2 gol), AS Roma (4), Sampdoria (2), Udinese (5), Hellas Verona (5), Napoli (7), Lazio (7), Fiorentina (3), dan Internazionale (8).
Dari totoal sembilan gol tersebut, Milan paling sering kebobolan antara menit 61 hingga menit 75, dengan total tiga gol. Dua gol lainnya terjadi pada 15 menit pertama. Milan hanya kebobolan satu kali pada 15 menit awal babak kedua.
Untuk mengejar target finis di zona Liga Champion, Pippo tidak boleh hanya mementingkan urusan mencetak banyak gol. Eks striker Milan itu juga harus belajar lebih keras untuk memahami cara bertahan yang baik.

Awal musim ini, Inzaghi telah mendatangkan satu bek tangguh dari PSG, yaitu Alex. Kehadiran Alex mulai membuat rasa khawatir Pippo sedikit berkurang. Ia berharap sang benteng bisa tampil maksimal sesuai harapan.



ViralGen Referral Shopping

Survey Berhadiah




Sponsor

ACMILIS by - Eddyaisme - 2015 - LowKerAkurat